🌿 Puisi dari 1991: Janji kepada Ibu, Bapak, dan Allah

Beberapa malam lalu, saya membuka laci lama yang jarang tersentuh. Di dalamnya, di antara kertas-kertas usang dan catatan kuliah, saya menemukan sebuah puisi yang saya tulis di bulan Oktober 1991.

Tulisan tangan saya sendiri, masih rapi meski kertasnya sudah menguning. Isinya sederhana — baris-baris doa dan janji dari seorang anak muda yang belum banyak tahu dunia, tapi sudah memikul kerinduan dan harapan besar.

Di sana tertulis kerinduan pada ibu dan bapak, doa untuk kakak, dan tekad kecil: “Aku ingin menjadi orang berguna. Aku ingin berbuat sesuatu untuk kalian, dan untuk Allah.”

Saat membacanya, hati saya mendadak berat. Ada rasa sedih yang sulit dijelaskan. Bukan sedih karena gagal menepati janji, tapi karena saya diingatkan pada suara hati saya di masa lalu — suara yang mungkin sempat tenggelam dalam hiruk pikuk kesibukan.

Namun di balik rasa sedih itu, ada kehangatan yang menenangkan. Karena ketika saya menatap perjalanan panjang sejak puisi itu ditulis, saya menyadari satu hal: Allah telah menjawab doa itu.

📖 Dari kerinduan itu lahir niat untuk belajar dan mengajar.
🌱 Dari tekad itu lahir buku-buku, penelitian, dan teori CBEM.
🌟 Dari kata-kata sederhana di atas kertas itu, Allah menuntun langkah saya hingga hari ini.


Saya menulis ini bukan untuk bernostalgia. Saya menulis agar kita semua ingat:

Tulislah doa dan mimpi-mimpi. Barangkali tak terkabul esok, tapi akan bekerja diam-diam, menunggu waktu yang tepat untuk mekar.

Jangan malu dengan air mata ketika membaca masa lalu. Itu tanda hati kita masih hidup dan terhubung dengan cita-cita lama.

Percayalah, Allah mendengar setiap kata, bahkan yang kita tulis puluhan tahun lalu.


Puisi itu kini saya simpan kembali. Tapi maknanya tak lagi sama. Dulu ia hanya coretan di kertas. Kini ia adalah pengingat bahwa niat suci, doa, dan janji — bila ditulis dengan hati — akan selalu menemukan jalannya.

Dan malam ini, saya ingin berkata kepada diri saya yang menulis puisi itu di 1991:

“Aku telah berusaha menepati janji itu. Doamu tidak hilang. Allah mendengarnya. Dan hidup ini adalah bukti bahwa Ia menjawab dengan cara-Nya sendiri.”

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *