Menghidupkan GKM dengan Semangat Kewirausahaan Komunitas: Jalan Menuju Budaya Mutu di Universitas Pasundan
Mengapa GKM Perlu Dimaknai Ulang?
Dalam percakapan sehari-hari tentang kualitas pendidikan tinggi, istilah Gugus Kendali Mutu (GKM) sering terdengar teknis dan kering. Padahal, di balik akronim itu tersimpan sebuah konsep penting: bagaimana kampus menjaga dan meningkatkan kualitasnya secara berkelanjutan. Sayangnya, di banyak perguruan tinggi, GKM sering berhenti pada tataran administratif—sekadar rapat rutin, laporan, dan dokumentasi.
Sebagai salah satu universitas besar berbasis nilai-nilai budaya Sunda, Universitas Pasundan (Unpas) memiliki modal sosial dan kultural yang luar biasa. Namun, modal itu tidak akan berarti tanpa sistem yang mampu menggerakkan partisipasi komunitas kampus: dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, bahkan alumni. Di sinilah saya melihat pentingnya menghubungkan GKM dengan teori manajemen kewirausahaan komunitas.
Manajemen Kewirausahaan Komunitas: Apa dan Mengapa?
Teori manajemen kewirausahaan komunitas menekankan bagaimana sebuah komunitas mengelola sumber daya, mengidentifikasi peluang, dan mengambil inisiatif kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Ini bukan sekadar bicara soal bisnis, melainkan soal mindset: keberanian mencoba hal baru, mengelola risiko, dan menciptakan nilai bersama.
Bila kerangka ini diterapkan di universitas, maka GKM bukan lagi sekadar “pengawas mutu”, tetapi “pemantik inovasi mutu”. Bayangkan setiap unit kerja, program studi, bahkan komunitas mahasiswa di Unpas bergerak layaknya sebuah “wirausaha sosial” — mencari cara kreatif meningkatkan layanan akademik, pengalaman belajar, dan reputasi kampus.
Hubungi Kami