Menghidupkan GKM dengan Semangat Kewirausahaan Komunitas: Jalan Menuju Budaya Mutu di Universitas Pasundan

Mengapa GKM Perlu Dimaknai Ulang?

Dalam percakapan sehari-hari tentang kualitas pendidikan tinggi, istilah Gugus Kendali Mutu (GKM) sering terdengar teknis dan kering. Padahal, di balik akronim itu tersimpan sebuah konsep penting: bagaimana kampus menjaga dan meningkatkan kualitasnya secara berkelanjutan. Sayangnya, di banyak perguruan tinggi, GKM sering berhenti pada tataran administratif—sekadar rapat rutin, laporan, dan dokumentasi.

Sebagai salah satu universitas besar berbasis nilai-nilai budaya Sunda, Universitas Pasundan (Unpas) memiliki modal sosial dan kultural yang luar biasa. Namun, modal itu tidak akan berarti tanpa sistem yang mampu menggerakkan partisipasi komunitas kampus: dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, bahkan alumni. Di sinilah saya melihat pentingnya menghubungkan GKM dengan teori manajemen kewirausahaan komunitas.

Manajemen Kewirausahaan Komunitas: Apa dan Mengapa?

Teori manajemen kewirausahaan komunitas menekankan bagaimana sebuah komunitas mengelola sumber daya, mengidentifikasi peluang, dan mengambil inisiatif kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Ini bukan sekadar bicara soal bisnis, melainkan soal mindset: keberanian mencoba hal baru, mengelola risiko, dan menciptakan nilai bersama.

Bila kerangka ini diterapkan di universitas, maka GKM bukan lagi sekadar “pengawas mutu”, tetapi “pemantik inovasi mutu”. Bayangkan setiap unit kerja, program studi, bahkan komunitas mahasiswa di Unpas bergerak layaknya sebuah “wirausaha sosial” — mencari cara kreatif meningkatkan layanan akademik, pengalaman belajar, dan reputasi kampus.

Pengaruh Beban Kerja Dan Percieved Organizational Support Terhadap Kinerja Karyawan Dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening Pada Bagian SOTAP NB Divisi Produksi PT. Feng Tay Indonesia Enterprises

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan kinerja karyawan pada
bagian SOTAP NB Divisi Produksi PT. Feng Tay Indonesia Enterprises. Tujuan
penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh beban kerja dan perceived
organizational support terhadap kepuasan kerja, serta pengaruh ketiganya
terhadap kinerja karyawan, baik secara langsung maupun melalui kepuasan kerja
sebagai variabel intervening. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan metode deskriptif dan verifikatif. Sampel dalam penelitian ini sebanyak
86 responden dipilih menggunakan teknik probability sampling. Data
dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan observasi, lalu dianalisis
menggunakan metode of successive interval (MSI), path analysis, koefisien
determinasi, dan uji hipotesis dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 27.

🌿 Hidup yang Ditinggalkan sebagai Inspirasi

Saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang ingin saya tinggalkan setelah saya tiada?”

Di dunia yang terus bergerak, di tengah rutinitas yang tiada habisnya, kita sering lupa bahwa hidup ini bukanlah untuk kita sendiri. Kita adalah penghubung antara generasi, sebuah titik yang diamanahkan untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya.

🌿 Doa di Meja Kerja

Ada satu kebiasaan kecil yang selalu saya lakukan setiap kali duduk di meja kerja: berdoa.Kadang hanya dalam bisikan lirih, kadang dalam hati yang terdiam lama.Di antara tumpukan kertas, buku,…

🌿 Pasrah pada Skenario Allah

Ada satu kalimat yang belakangan ini sering saya ulang dalam hati, “Saya akan menerima dan pasrah akan skenario itu.”Kalimat sederhana, tapi di baliknya ada perjalanan panjang untuk benar-benar memaknainya.…