Pernahkah kita membayangkan, di tengah hiruk-pikuk obrolan tentang AI, blockchain, hingga robotics di kafe-kafe Jakarta, ada seorang petani di pelosok desa yang sedang menatap langit, berharap cemas apakah hujan akan turun tepat waktu? Atau seorang perajin anyaman di kaki gunung yang bingung bagaimana cara menjual karyanya ke luar negeri?
Kesenjangan ini nyata. Namun, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, ada sebuah janji yang konsisten ditiupkan: Indonesia tidak akan maju jika desanya ditinggalkan.
Dalam sebuah kesempatan yang menggugah, Prabowo menegaskan:
“Membangun Indonesia harus dimulai dari membangun desa. Jika desa-desa kita kuat, maka Indonesia akan kuat. Kedaulatan pangan, kedaulatan energi, dan kekuatan ekonomi kita ada di tangan rakyat desa.”
Kalimat ini bukan sekadar pemanis pidato. Ini adalah paradigma. Dan “senjata” utama untuk mewujudkannya di abad ke-21 ini adalah: Desa Digital.
Desa Digital: Bukan Sekadar Pasang Wi-Fi di Kantor Desa
Seringkali kita salah sangka. Kita pikir kalau sebuah desa sudah punya akun Instagram atau pasang Wi-Fi gratis di balai desa, maka otomatis jadi “Desa Digital”. Padahal, Desa Digital itu lebih dalam dari itu. Ini soal bagaimana teknologi masuk ke nadi ekonomi, layanan publik, hingga cara berpikir warga.
Bayangkan sebuah ekosistem di mana data bukan lagi barang mewah, tapi alat produksi.
Asta Cita: Peta Jalan Menuju Desa Mandiri
Visi Asta Cita yang diusung Prabowo-Gibran bukan sekadar dokumen teknis. Jika kita bedah, ruhnya adalah pemerataan. Mari kita lihat bagaimana Desa Digital menjadi “bensin” bagi mesin Asta Cita:
1. Swasembada Pangan yang “Pintar” (Asta Cita 2) Kita ingin berdikari secara pangan. Caranya? Bukan lagi sekadar bagi-bagi pupuk, tapi digitalisasi pertanian. Dengan Smart Farming, petani bisa tahu kapan waktu terbaik menanam hanya dari layar ponsel. Sensor tanah memberi tahu kapan harus menyiram. Inilah cara kita mencapai target Asta Cita tanpa harus mengandalkan impor terus-menerus.
2. Melahirkan “Digital Nomad” dari Desa (Asta Cita 3) Selama ini, anak muda desa terobsesi pergi ke kota untuk cari kerja. Dampaknya? Desa kehilangan SDM terbaiknya. Melalui Desa Digital, kita ingin membalik arus itu. Biarlah raga tetap di desa, tapi rezeki kota (bahkan dunia) masuk ke rekening mereka. Inilah pembangunan SDM yang sesungguhnya: memberi mereka alat untuk berdaya di tanah kelahiran sendiri.
3. Hilirisasi di Tingkat Akar Rumput (Asta Cita 5) Hilirisasi jangan hanya dibayangkan soal smelter nikel yang raksasa. Hilirisasi bisa dimulai dari pengemasan produk UMKM desa yang ciamik, dipasarkan lewat marketplace global, dan dikelola lewat sistem inventori digital. Nilai tambah produk desa harus tetap tinggal di desa, bukan lari ke tengkulak atau perantara di kota.
4. Reformasi Birokrasi yang Gak Pake Ribet (Asta Cita 7) Mau urus surat domisili? Gak perlu lagi bolak-balik ke kantor desa kalau sistemnya sudah digital. Transparansi dana desa pun bisa dipantau warga lewat dasbor publik. Ini adalah cara paling elegan untuk memberantas korupsi dan inefisiensi dari level terbawah.
Tantangan: Infrastruktur dan “Mindset”
Tentu, jalan menuju Desa Digital tidak semulus aspal jalan tol. Kita masih punya PR besar soal area blank spot. Tapi, tantangan yang lebih besar sebenarnya adalah literasi. Teknologi hanyalah alat. Jika alat canggih hanya dipakai untuk menyebar hoaks di grup WhatsApp, maka esensi Desa Digital gagal.
Tugas kita—dan pemerintah—adalah memastikan bahwa digitalisasi ini membawa manfaat produktif. Mengubah “konsumen konten” menjadi “produsen solusi”.
Penutup: Desa Adalah Masa Depan
Mengutip pesan Presiden Prabowo, membangun dari desa adalah jalan kedaulatan. Desa Digital dalam bingkai Asta Cita adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak meninggalkan siapa pun di belakang.
Sudah saatnya kita berhenti memandang desa sebagai tempat untuk “pulang” saat lebaran saja. Desa adalah masa depan ekonomi Indonesia. Dan masa depan itu, kini sedang diunduh melalui transformasi digital.
Saatnya desa bicara, saatnya desa berdaya. Karena ketika desa berdaulat, Indonesia akan bermartabat.
Tulisan ini adalah bagian dari komitmen rohmatsarman.com untuk terus mengawal isu pembangunan nasional yang berpihak pada rakyat.


Hubungi Kami