Riyāḍah, Tawakal, dan Jalan yang Mengalir

Riyāḍah, Tawakal, dan Jalan yang Mengalir

Ada fase dalam hidup saya ketika saya merasa berada di persimpangan antara dunia dan akhirat. Aktivitas berjalan, gagasan tumbuh, masyarakat bergerak, penelitian berkembang. Namun di dalam hati, ada kerinduan yang tidak bisa dijelaskan: kerinduan untuk lebih dekat kepada Allah.

Saya pernah merasakan nikmatnya bangun malam secara konsisten. Beberapa bulan saya menjaga tahajud. Hati terasa ringan. Pikiran jernih. Lingkungan merespons dengan baik. Rezeki seakan mengalir lebih lancar. Hidup terasa teratur.

Saat itu saya berpikir, inilah keseimbangan.

Namun hidup tidak selalu berjalan dalam garis lurus.


Doa Ibu dan Jejak Tirakat

Ibu saya adalah seorang petani. Beliau pernah berpuasa pada hari kelahiran saya bertahun-tahun lamanya. Beliau hanya ingin anaknya menjadi “orang besar”. Ketika saya masih remaja, saya tidak sepenuhnya memahami makna tirakat itu. Kini, setelah beliau tiada, saya baru merasakan kedalaman pengorbanan tersebut.

Setiap kali saya berdiri dalam shalat dan mendoakan beliau, saya merasa sedang melanjutkan sebuah siklus cinta. Dulu beliau berpuasa dan berdoa untuk kejernihan hidup saya. Kini saya berdoa agar Allah mengampuni dan meninggikan derajatnya.

“Riyāḍah seorang ibu membentuk masa depan anaknya; riyāḍah seorang anak menerangi akhirat ibunya.”

Kerinduan kepada ibu sering kali membawa saya kepada kerinduan kepada Allah. Seolah-olah kehilangan itu bukan untuk menjauhkan, tetapi untuk mengarahkan hati langsung kepada Sang Pemilik kehidupan.


Ketika Intensitas Menguji Batas

Saya pernah berada dalam fase spiritual yang sangat intens. Dalam tekanan akademik yang berat, dalam keinginan kuat untuk menjadi lebih baik, dalam dorongan untuk berbuat besar, saya lupa satu hal: manusia memiliki batas.

Saya mengalami guncangan jiwa. Fungsi keseharian terganggu. Realitas terasa berubah. Fase itu mengajarkan saya bahwa riyāḍah tanpa keseimbangan bisa menjadi berat. Kurang tidur, tekanan pikiran, ambisi yang terlalu kuat, semua bisa mengguncang sistem yang Allah titipkan kepada kita.

Saya belajar bahwa kedekatan kepada Allah tidak diukur dari ekstremitas. Tidak dari seberapa lama kita begadang. Tidak dari seberapa keras kita memaksa diri.

“Allah tidak mencintai hamba yang menyiksa dirinya, tetapi yang menjaga amanah tubuh dan jiwanya.”

Sejak saat itu, saya belajar bahwa stabilitas adalah bagian dari ibadah.


Riyāḍah yang Lebih Lembut

Hari ini saya tidak lagi memaksa diri untuk mencapai intensitas spiritual yang tinggi. Saya lebih memilih riyāḍah yang lembut tetapi konsisten. Shalat tepat waktu. Dzikir sederhana. Doa untuk ibu. Menjaga niat sebelum bekerja. Tidur cukup sebagai bentuk amanah.

Saya menyadari bahwa tahajud yang stabil lebih utama daripada tahajud yang heroik lalu berhenti. Puasa yang terukur lebih baik daripada puasa yang membuat tubuh lemah.

“Riyāḍah bukan tentang seberapa tinggi kita melonjak, tetapi seberapa lama kita bertahan.”

Saya tidak ingin lagi mengejar rasa. Saya ingin menjaga arah.


MKK sebagai Buah Perjalanan

Dalam perjalanan panjang itu, saya melihat bagaimana pengalaman hidup saya mengalir menjadi gagasan. Media komunitas, radio komunitas, pertanian organik, interaksi dengan masyarakat desa, semuanya membentuk Manajemen Kewirausahaan Komunitas (MKK).

Saya tidak menganggapnya sebagai mandat eksklusif. Saya melihatnya sebagai buah dari perjalanan yang Allah rangkai. Krisis, refleksi, stabilisasi, semuanya menjadi bahan baku pemahaman.

Ketika saya melihat MKK dituliskan, didiskusikan, atau dikembangkan, kadang mata saya menetes. Bukan karena merasa istimewa, tetapi karena merasa hidup yang pernah goyah ternyata tetap bisa diarahkan.

“Allah tidak membuang pengalaman kita; Ia menyusunnya menjadi pelajaran.”


Tawakal yang Dewasa

Kini saya berkata kepada diri sendiri: masa depan saya serahkan kepada Allah. Tetapi saya tetap berikhtiar. Saya tetap meneliti, menulis, membimbing, merancang model industrialisasi pertanian secara bertahap. Saya tetap minum obat sesuai anjuran dokter. Saya tetap menjaga tidur.

Tawakal bagi saya bukan berhenti bergerak. Tawakal adalah berhenti mengguncang diri karena hasil. Tawakal adalah menerima bahwa ada wilayah yang bukan dalam kendali kita.

“Ikhtiar adalah tugas kita; hasil adalah hak Allah.”

Saya tidak lagi merasa harus membuktikan diri. Saya ingin menjaga diri agar tetap stabil dan bermanfaat.


Menjadi Besar dalam Makna Baru

Hari ini saya memahami bahwa menjadi “orang besar” bukan tentang jabatan atau pengakuan. Ia tentang kemampuan menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Tentang kemampuan berbuat tanpa kehilangan arah. Tentang keberanian menerima batas.

Jika ibu melihat saya hari ini, saya berharap beliau tersenyum. Bukan karena proyek besar, bukan karena publikasi, tetapi karena anaknya belajar berjalan dengan tenang.

“Kebesaran sejati bukan pada pencapaian yang gemilang, tetapi pada hati yang tetap tunduk.”


Penutup: Jalan yang Mengalir

Saya pernah berada di persimpangan. Kini saya melihat bahwa hidup bukan pertentangan antara dunia dan akhirat. Dunia adalah ladang. Akhirat adalah tujuan. Keduanya bisa berjalan bersama jika hati dijaga.

Riyāḍah mengajarkan saya disiplin.
Krisis mengajarkan saya batas.
Tawakal mengajarkan saya tenang.
Masyarakat mengajarkan saya makna.

Dan mungkin, pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa tinggi kita terbang, tetapi seberapa seimbang kita melangkah menuju-Nya.

“Selama arah kita kepada Allah, lambat atau cepat bukan persoalan.”


Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *