Miskin Jadi Komoditas Politik: Analisis Perilaku Pembangunan dan Solusinya Lewat Manajemen Kewirausahaan Komunitas
Demo dan Kecongkakan Pemegang Kekuasaan: Perspektif Manajemen Kewirausahaan Komunitas (MKK)
Berpindah dari Dunia ke Allah: Kunci Hati yang Tenang
Menjadi Pembimbing Tugas Akhir: Bukan Sekadar Akademik, Tapi Tentang Kemanusiaan

Ada satu momen yang selalu membuat saya merenung dalam sunyi, meski telah bertahun-tahun menjadi dosen: ketika seorang mahasiswa mengirimkan pesan, “Pak, terima kasih sudah membimbing saya sampai lulus.”
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya basa-basi. Tapi bagi saya, itu adalah pengingat: membimbing tugas akhir bukanlah pekerjaan administratif atau rutinitas akademik belaka. Ia adalah perjumpaan antara dua manusia—yang satu sedang mencari makna ilmunya, dan yang lain sedang mencoba mengantarkan, dengan sabar, agar si pencari tidak tersesat.
Antara Bimbingan dan Harapan
Saya masih ingat wajah gugup mahasiswa saya di pertemuan bimbingan pertama. Mereka datang dengan proposal seadanya, kadang dengan logika yang belum utuh, kadang hanya bermodal semangat. Tapi di balik semua itu, saya melihat satu hal: harapan.
Harapan agar mereka bisa menuntaskan satu tahap penting dalam hidup. Harapan agar orang tua mereka bisa tersenyum bangga. Harapan agar gelar itu membuka pintu masa depan.
Sebagai pembimbing, saya merasa bukan hanya bertugas memeriksa struktur metodologi atau memotong kalimat yang terlalu panjang. Saya ada di sana untuk menjaga nyala harapan itu tetap hidup.
Ketika Hati Terlalu Melekat: Refleksi Tentang Melepaskan untuk Tenang
Oleh: Rohmat Sarman
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya.”
(QS. Asy-Syams: 9)
Pendahuluan: Mengapa Hati Mudah Melekat?
Manusia diciptakan dengan hati yang bisa mencintai, menginginkan, dan menggenggam. Tapi hati yang tidak diarahkan dengan benar, bisa melekat pada hal-hal yang salah: kekuasaan, harta, pasangan, status, bahkan pujian. Dan saat hati terlalu melekat pada dunia, maka hadir kegelisahan yang pelan tapi pasti merusak ketenangan.
Kita hidup di era yang mengajarkan untuk mengejar lebih banyak. Namun jarang diajarkan tentang bagaimana melepaskan.
Apa Itu Kemelekatan Hati?
Kemelekatan hati adalah kondisi batin saat kita tidak lagi hanya menggunakan dunia sebagai sarana, tetapi menjadikannya sebagai tujuan dan sumber identitas. Kita merasa “berharga” jika memiliki sesuatu, dan merasa “hilang arah” jika kehilangan itu.
Contohnya:
-
Takut kehilangan pekerjaan, karena merasa hanya itu sumber harga diri.
-
Terlalu mencintai seseorang hingga lupa bahwa dia juga milik Allah.
-
Mengejar validasi dari media sosial untuk merasa cukup.
Inilah kemelekatan: ketika sesuatu selain Allah menjadi pusat orbit hati kita.
🌿 Hidup yang Ditinggalkan sebagai Inspirasi
Saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang ingin saya tinggalkan setelah saya tiada?”
Di dunia yang terus bergerak, di tengah rutinitas yang tiada habisnya, kita sering lupa bahwa hidup ini bukanlah untuk kita sendiri. Kita adalah penghubung antara generasi, sebuah titik yang diamanahkan untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya.




Hubungi Kami