Ada satu kalimat yang belakangan ini sering saya ulang dalam hati, “Saya akan menerima dan pasrah akan skenario itu.”
Kalimat sederhana, tapi di baliknya ada perjalanan panjang untuk benar-benar memaknainya.
Kita semua punya rencana. Kita menulis target, menyusun agenda, membuat impian. Saya pun demikian – ingin menulis buku, meneliti, meraih gelar akademik, dan berbagi ilmu. Tetapi di atas semua itu, ada skenario Allah yang kadang berbeda dari rencana saya, kadang lebih cepat, kadang lebih lambat, bahkan sering kali sama sekali tidak saya duga.
✨ Pasrah bukan berarti berhenti berusaha.
Pasrah adalah berusaha sebaik-baiknya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Ada ketenangan yang luar biasa ketika kita berkata, “Ya Allah, aku sudah mencoba, sisanya Engkau yang atur.”
Dan ternyata, di situlah letak kekuatan tawakkal:
- Langkah terasa ringan karena kita tidak terbebani hasil.
- Hati terasa damai karena kita yakin Allah tahu jalan terbaik.
- Kejutan-kejutan indah datang tanpa kita rencanakan.
📖 Ketika saya melihat kembali perjalanan saya – dari menulis puisi di tahun 1991, mendampingi desa, menulis buku, hingga melahirkan teori CBEM – saya sadar, semuanya terjadi dalam skenario Allah.
Bahkan hal-hal yang dulu terasa sebagai hambatan, ternyata adalah bagian penting dari cerita.
🌟 Pasrah adalah seni meletakkan semua pada tempatnya.
✅ Usaha di tangan kita.
✅ Hasil di tangan Allah.
Dan ketika kita benar-benar pasrah, hidup terasa lebih ringan. Kita berhenti memaksa, berhenti marah pada keadaan, dan mulai melihat segala hal sebagai bagian dari naskah besar yang Allah tulis untuk kita.
Malam ini, saya menulis ini untuk mengingatkan diri saya sendiri — dan juga Anda yang membaca:
Berusahalah dengan sepenuh hati. Tapi setelah itu, pasrahkan segalanya pada Allah.
Karena skenario Allah selalu lebih indah dari rencana kita sendiri.
Hubungi Kami