šŸ“– #SeriIlmiahMKK | Literasi Sosial sebagai Infrastruktur Pembangunan

Oleh: Dr. H. Rohmat Sarman, S.E., M.Si.

Dalam pembangunan konvensional, kita sering terlalu sibuk membangun jalan, gedung, dan sarana fisik—tetapi melupakan hal yang jauh lebih mendasar: kesadaran warga sebagai agen perubahan. Inilah yang saya sebut sebagai literasi sosial—kemampuan kolektif warga untuk memahami realitas sosialnya, menyusun makna bersama, dan mengorganisasi diri untuk bertindak.

Dalam penyusunan Model Manajemen Kewirausahaan Komunitas (MKK), literasi sosial saya posisikan bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai infrastruktur utama. Tanpa literasi sosial, forum warga mandek. Tanpa literasi sosial, partisipasi menjadi seremonial. Tanpa literasi sosial, kewirausahaan komunitas hanya akan menjadi jargon yang dikendalikan oleh aktor luar.


🧠 Apa Itu Literasi Sosial?

Literasi sosial bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Ia mencakup:

  • Kesadaran akan relasi sosial: Siapa yang memegang kuasa? Siapa yang terpinggirkan? Apa norma yang hidup?
  • Kritis terhadap wacana dominan: Apakah pembangunan ini untuk warga atau atas nama warga?
  • Kemampuan membangun narasi kolektif: Warga bisa menyuarakan pandangannya sendiri, bukan hanya mengutip narasi dari luar.
  • Kesiapan untuk bertindak bersama: Literasi sosial adalah jembatan antara kesadaran dan tindakan.

🌱 Contoh Praktik: Literasi Sosial dalam MKK

  • Di P4S Bale Pare, warga tidak hanya belajar pertanian, tetapi juga membaca realitas pasar, membangun sistem distribusi yang adil, dan menyusun strategi usaha kolektif secara demokratis.
  • Di NH FM Karawang, penyiar warga tidak hanya membacakan berita, tetapi mendiskusikan isu-isu lokal dengan gaya bahasa sendiri—bahkan menciptakan ā€œmedia etika wargaā€.
  • Di Karawang Info, literasi digital menjadi bentuk literasi sosial. Warga mengelola ruang wacana sendiri, menyampaikan kritik sosial, dan saling mengedukasi dengan kecepatan viral.

šŸ—ļø Literasi Sosial sebagai Infrastruktur

Mengapa saya menyebutnya sebagai infrastruktur?

Karena tanpa itu, semua bangunan fisik dan bantuan program bisa runtuh saat tidak ada kontrol warga. Sebaliknya, dengan literasi sosial yang kuat, komunitas mampu:

  • Mendeteksi ketimpangan dalam pembangunan;
  • Menolak program yang tidak sesuai nilai;
  • Membangun sistem akuntabilitas berbasis komunitas;
  • Menghidupkan lembaga informal seperti forum musyawarah, rembug warga, atau jurnalisme komunitas.

šŸ“˜ Model MKK dan Etos Literasi Sosial

Buku Model Manajemen Kewirausahaan Komunitas yang segera saya terbitkan menyertakan literasi sosial sebagai prinsip dasar dan benang merah di setiap tahap model. Literasi sosial adalah alasan mengapa MKK bersifat regeneratif, bukan satu kali proyek.

Literasi sosial menjamin bahwa pembangunan tidak bergantung pada fasilitator, LSM, atau proyek pemerintah—tetapi pada warga itu sendiri.


šŸ“– Literasi sosial bukan hanya pengetahuan—ia adalah daya hidup komunitas.
šŸ“˜ Buku Model MKK akan memaparkan bagaimana literasi sosial menjadi jantung perubahan dalam berbagai komunitas.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *