Akademisi Turun ke Bumi: Ilmu yang Membumi, Desa yang Mandiri

Akademisi Turun ke Bumi: Ilmu yang Membumi, Desa yang Mandiri

Di tengah laju pembangunan yang serba cepat dan berbasis kapital besar, desa seringkali tertinggal sebagai entitas yang dianggap pasif — menunggu program, mengikuti arah, dan sekadar menjadi objek pembangunan. Namun, kenyataannya berbeda. Desa adalah ruang hidup yang dinamis, penuh dengan praktik sosial yang kaya, solidaritas yang kuat, serta kearifan lokal yang teruji oleh waktu. Dalam ruang ini, saya meyakini bahwa peran akademisi bukan sekadar menjadi pengamat dari menara gading, melainkan menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat.

Ketika saya diundang menjadi pembicara utama dalam kegiatan Seminar Peran Kader PKK dalam Diseminasi Kewirausahaan Komunitas dan Launching SRIKANDI Karawang, saya melihat momentum yang sangat strategis — tidak hanya sebagai kegiatan seremonial, tapi sebagai perwujudan dari model pembangunan alternatif yang telah lama kita rindukan: pembangunan yang berbasis komunitas, menyentuh akar persoalan, dan bertumpu pada kekuatan warga itu sendiri.

Tagline yang saya usung, “Akademisi Turun ke Bumi”, lahir dari kesadaran bahwa ilmu yang tidak membumi hanya akan mengambang di udara. Ilmu yang sejati adalah ilmu yang mengakar, yang bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dan yang menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dengan realitas sosial. Dalam konteks ini, konsep Manajemen Kewirausahaan Komunitas (MKK) menjadi kerangka yang bukan hanya ilmiah, tetapi juga praksis dan relevan. Ia bukan hanya berbicara tentang bisnis, tetapi juga tentang nilai, solidaritas, dan pemberdayaan yang berkelanjutan.

MKK tumbuh dari praktik nyata: dari petani organik yang membentuk ekosistem pertanian berdaya saing tinggi di Karawang, dari radio komunitas yang menyuarakan aspirasi perempuan dan pemuda, hingga jurnalisme warga yang menghidupkan demokrasi partisipatoris. Semua itu membentuk fondasi dari model kewirausahaan yang tidak egoistik, melainkan kolektif dan regeneratif. Di sinilah peran akademisi menjadi sangat penting — sebagai penyusun kerangka teoritik, fasilitator partisipasi, dan pendamping dalam proses transformasi sosial.

Peluncuran Sentra Inkubasi Kewirausahaan Komunitas Desa Inovatif (SRIKANDI Karawang) adalah langkah konkret menuju pembaruan paradigma pembangunan desa. Ia bukan hanya pusat pelatihan, tapi pusat pembentukan masa depan — di mana perempuan desa tidak hanya didorong untuk ikut serta dalam ekonomi, tetapi diposisikan sebagai penggerak utama transformasi sosial-ekonomi. Di tangan mereka, pelatihan bukan hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk mengambil keputusan, membangun usaha, dan mengubah nasib keluarga serta komunitasnya.

Karawang, dengan inisiatif SRIKANDI, layak menjadi role model nasional. Ia menunjukkan bahwa ketika komunitas diberi ruang, pendampingan, dan pengakuan, maka akan lahir sistem ekonomi baru yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih berkelanjutan. Kita tidak sedang bicara tentang charity, tapi tentang strategi jangka panjang yang bisa mengatasi kesenjangan dan ketimpangan struktural dengan pendekatan dari bawah ke atas.

Sebagai akademisi, saya merasa terhormat bisa menjadi bagian dari proses ini. Tidak untuk menggurui, tetapi untuk belajar bersama. Karena sejatinya, pengetahuan itu tumbuh dalam dialog — antara teori dan praktik, antara kampus dan kampung, antara buku dan bumi.

“Ketika akademisi turun ke bumi, ilmu menjadi lentur, masyarakat menjadi percaya diri, dan pembangunan menjadi milik bersama.”

Mari kita teruskan gerakan ini. Mari kita jadikan desa bukan hanya sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai sumber inspirasi, inovasi, dan transformasi. Karena di sanalah akar kekuatan bangsa ini berada.

Dr. H. Rohmat Sarman, SE, M.Si
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Pasundan Bandung

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *