Belajar dari iCEBIV 2025: Inovasi Berkelanjutan dan Tantangan Generasi Muda

Belajar dari iCEBIV 2025: Inovasi Berkelanjutan dan Tantangan Generasi Muda

Oleh: Dr. H. Rohmat Sarman, SE., M.Si.

Pada bulan Agustus 2025, saya mendapat kehormatan untuk menjadi juri dalam ajang internasional iCEBIV (International Competition of Entrepreneurship Business Innovation) 2025 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Bandung (UNISBA) bekerja sama dengan Faculty of Business and Management Universiti Teknologi MARA Kedah, Malaysia. Kompetisi ini mengusung tema besar: “Empowering the Next Generation of Sustainable Business Innovation for a Brighter Tomorrow.”

Generasi Muda dan Tantangan Inovasi Berkelanjutan

Kompetisi ini memperlihatkan betapa besar energi dan ide-ide segar yang dimiliki generasi muda dari berbagai negara. Mereka tidak hanya memikirkan keuntungan bisnis, tetapi juga mulai serius menempatkan isu keberlanjutan sebagai inti inovasi. Mulai dari pengolahan limbah, energi terbarukan, pangan sehat, hingga model bisnis berbasis komunitas, semua ditampilkan dengan kreativitas tinggi.

Bagi saya, ini adalah sinyal penting. Generasi muda kita tidak lagi cukup hanya diajarkan keterampilan bisnis konvensional, melainkan perlu dibekali etos inovasi berkelanjutan: bagaimana bisnis bisa tumbuh tanpa merusak lingkungan, bagaimana profit bisa berdampingan dengan nilai sosial, dan bagaimana teknologi menjadi sarana pemberdayaan, bukan sekadar alat eksploitasi.

Pelajaran dari iCEBIV 2025

Ada tiga pelajaran utama yang saya peroleh dari keterlibatan sebagai juri:

  1. Kolaborasi Lintas Negara Penting untuk Inovasi
    Ide-ide inovatif tidak mengenal batas negara. Dengan hadirnya peserta dari berbagai latar belakang, terlihat jelas bahwa kolaborasi internasional adalah kunci mempercepat solusi bagi masalah global.
  2. Nilai dan Tradisi Tidak Hilang di Era Digital
    Meski berbicara tentang teknologi dan keberlanjutan, banyak peserta yang tetap mengangkat nilai budaya, etika, bahkan spiritualitas sebagai dasar model bisnis. Hal ini sangat selaras dengan gagasan saya dalam Model Manajemen Kewirausahaan Komunitas (MKK) yang juga menekankan integrasi nilai lokal dengan inovasi modern.
  3. Kompetisi sebagai Laboratorium Belajar
    iCEBIV bukan sekadar ajang lomba, tetapi sebuah laboratorium tempat ide diuji, diperdebatkan, dan disempurnakan. Bagi peserta, proses ini jauh lebih berharga daripada sekadar trofi, karena melatih mereka untuk berpikir kritis, bekerja sama, dan berani bermimpi besar.

Relevansi untuk Indonesia

Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang seperti iCEBIV. Ajang seperti ini dapat menjadi inkubator gagasan sekaligus sarana membangun jejaring global bagi mahasiswa dan entrepreneur muda. Terlebih lagi, jika dikaitkan dengan agenda nasional seperti SDGs Desa, program Desa Digital, dan pemberdayaan UMKM, maka kompetisi ini dapat memberi inspirasi kebijakan dan praktik nyata di tingkat lokal.

Membangun Masa Depan Bersama

Sebagai juri, saya merasa mendapat kesempatan untuk belajar dari generasi muda dunia. Mereka mengingatkan bahwa masa depan bisnis tidak hanya diukur dengan neraca laba rugi, tetapi juga dengan neraca sosial dan lingkungan.

Melalui iCEBIV 2025, saya semakin yakin bahwa jika kita mampu mengarahkan energi kreatif generasi muda ke jalur inovasi berkelanjutan, maka masa depan ekonomi kita bukan hanya lebih cerah, tetapi juga lebih adil, berkelanjutan, dan penuh keberkahan.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *