Dalam perjalanan panjang saya mendampingi komunitas desa selama lebih dari satu dekade, saya menemukan bahwa kekuatan desa sesungguhnya tidak hanya terletak pada sumber daya alam atau bantuan eksternal, melainkan pada nilai-nilai sosial, solidaritas, dan kapasitas warga itu sendiri. Melalui pengalaman mendalam di lapangan—mulai dari pelatihan pertanian organik, penguatan radio komunitas, hingga pembentukan forum digital warga—saya perlahan mulai menyusun kerangka konseptual yang kelak menjadi fondasi dari Model Manajemen Kewirausahaan Komunitas (MKK), atau dalam terminologi internasional: Community-Based Entrepreneurship Management (CBEM).
🔍 Teori yang Tumbuh dari Bawah
Berbeda dari teori yang dibangun dari ruang seminar, MKK/CBEM merupakan refleksi dari praktek sosial nyata yang dijalani warga desa. Ia berangkat dari pengalaman kolektif dan transformasi lokal yang kemudian dikristalisasi dalam bentuk kerangka ilmiah. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Paulo Freire tentang praxis—bahwa teori sejati lahir dari dialektika antara refleksi dan aksi.
Teori MKK bukan sesuatu yang saya “ciptakan” dalam pengertian individualistik, melainkan hasil dari pembelajaran bersama warga desa, yang kemudian saya dokumentasikan, evaluasi, dan strukturkan dalam format akademik agar dapat direplikasi dan diuji oleh komunitas lain maupun kalangan akademisi.
🧠 Model MKK: Antara Nilai dan Manajemen
MKK/CBEM bukan hanya bicara soal usaha ekonomi, tetapi tentang bagaimana komunitas membangun sistem kewirausahaan yang berakar pada nilai lokal, seperti:
- Gotong royong sebagai dasar produksi dan distribusi
- Musyawarah sebagai mekanisme pengambilan keputusan
- Kepemimpinan kolektif dan regeneratif
- Spiritualitas sebagai fondasi akuntabilitas moral
- Literasi digital untuk memperluas partisipasi dan advokasi
Model ini diterapkan secara nyata dalam komunitas seperti P4S Bale Pare (praktik pertanian dan UMKM berbasis nilai), NH FM Karawang (media komunitas untuk literasi warga), dan Karawang Info (forum digital yang memperkuat kesadaran kolektif). Dari sinilah, saya menyusun model manajemen berbasis siklus partisipatif yang menggabungkan pemetaan sosial, konsolidasi komunitas, inisiasi usaha kolektif, penguatan kapasitas, dan evaluasi partisipatif.
🔬 Kontribusi Akademik: Desa Sebagai Produsen Pengetahuan
Sebagian besar teori manajemen dan kewirausahaan lahir dari konteks urban atau korporat. Dalam hal ini, desa sering kali hanya diposisikan sebagai objek implementasi teori, bukan sebagai sumber pencipta teori. MKK/CBEM justru membalik logika tersebut dengan menunjukkan bahwa:
“Desa bukan hanya tempat pembangunan dilaksanakan, tetapi juga ruang di mana pengetahuan dibangun, diuji, dan diwariskan.”
Melalui dokumentasi reflektif dan evaluasi lapangan, saya mengartikulasikan pendekatan ini sebagai model teoretik baru yang mengisi kekosongan antara logika akademik dan dinamika lapangan, antara wacana pembangunan dan praktik pemberdayaan sejati.
📚 Dasar Ilmiah dan Referensi Teoretik
Model ini mendapat dukungan dari berbagai literatur akademik seperti:
- Community-Based Enterprise (Peredo & Chrisman, 2006)
- Social Capital Theory (Putnam, 2000)
- Participatory Rural Appraisal (Chambers, 1997)
- Praxis & Critical Pedagogy (Paulo Freire, 2000)
Namun, yang membedakannya adalah bahwa MKK bukan sekadar aplikasi dari teori tersebut, tetapi hasil rekonstruksi dan sintesis berbasis konteks lokal Indonesia, khususnya praktik pemberdayaan warga di Karawang.
🌱 MKK/CBEM: Sebuah Kontribusi, Bukan Klaim
Saya tidak menyebut model ini sebagai penemuan mutlak, melainkan sebagai bentuk kontribusi: sebuah upaya menyusun ulang pengetahuan yang telah ada di komunitas menjadi struktur konseptual yang bisa diuji, dikembangkan, dan dibagikan. Buku saya—Model Manajemen Kewirausahaan Komunitas (Nasmedia, 2025)—merupakan bentuk formal dari narasi panjang ini, yang diharapkan dapat menjadi referensi ilmiah dan inspirasi praksis.
🎯 Membangun dari Nilai, Bertumbuh Bersama Komunitas
Model ini saya persembahkan untuk akademisi, mahasiswa, pegiat komunitas, dan pembuat kebijakan yang mencari pendekatan baru dalam membangun desa yang adil, mandiri, dan bermartabat. Semoga MKK/CBEM menjadi satu dari sekian banyak cara untuk menegaskan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari praktik-praktik kecil yang dijalani bersama, dimaknai bersama, dan dihidupi oleh komunitas itu sendiri.
🖋️ Dr. H. Rohmat Sarman, S.E., M.Si.
Pengembang Model MKK/CBEM | Pegiat Komunitas | Penulis Buku
Hubungi Kami