
Oleh: Rohmat Sarman
“Celakalah orang yang riya…”
(QS. Al-Ma’un: 4-6)
Godaan yang Halus
Pujian adalah sesuatu yang disukai oleh hampir semua orang. Mendapat ucapan terima kasih, dihargai, atau dikagumi bisa membuat hati terasa ringan. Namun, jika tidak hati-hati, pujian bisa menjadi candu yang menggerogoti keikhlasan.
Ketika kita mulai mengatur perilaku semata-mata agar terlihat baik di mata manusia, di situlah bahaya riya mengintai. Kebaikan yang semula lillah, berubah menjadi sekadar pencitraan.
Padahal, nilai diri seorang hamba bukan berasal dari lidah manusia, melainkan dari pandangan Allah.
Pujian Itu Fana, Pandangan Allah Kekal
Hari ini kita bisa dipuji, besok kita bisa dihina. Lidah manusia berubah-ubah sesuai suasana hati, kepentingan, dan kondisi. Jika hidup kita hanya diarahkan oleh ucapan orang lain, maka kita akan lelah mengikuti standar yang tidak pernah pasti.
Allah melihat jauh lebih dalam: niat yang tersembunyi di hati.
-
Kita bisa terlihat hebat di mata manusia, tapi kosong di mata Allah.
-
Kita bisa tampak sederhana di mata manusia, tapi gemilang di sisi Allah.
Maka yang terpenting bukanlah bagaimana manusia menilai kita, melainkan bagaimana Allah memandang hati dan amal kita.
Bahaya Riya: Amal yang Hilang Pahalanya
Riya artinya melakukan amal dengan tujuan selain Allah, misalnya ingin dipuji, dilihat, atau dianggap baik oleh orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad)
Artinya, amal yang kita lakukan bisa saja tidak sampai kepada Allah, meski terlihat indah di mata manusia. Amal yang bercampur riya ibarat rumah megah tapi pondasinya rapuh—indah sekejap, runtuh akhirnya.
Contoh Kehidupan: Tersesat dalam Pujian
-
Seseorang yang dermawan, tapi selalu memastikan ada kamera saat ia memberi. Amal itu mungkin viral di dunia, tapi sunyi di hadapan Allah.
-
Seorang pemimpin, yang rajin menolong rakyatnya, tapi hanya untuk mendapatkan suara. Di mata manusia ia dipuji, tapi di sisi Allah bisa jadi kosong.
-
Orang biasa, yang rajin beribadah, tapi gelisah jika tidak dipuji. Hatinya bergantung pada manusia, bukan pada Allah.
Langkah Praktis Menjaga Diri dari Riya
- Periksa niat sebelum beramal
Tanyakan pada diri sendiri: “Jika tidak ada yang melihat, apakah aku masih akan melakukannya?” - Miliki amal rahasia
Simpan sebagian amal hanya untuk Allah. Biarlah tidak ada manusia yang tahu, agar hati tetap terjaga. - Ingat kefanaan pujian
Pujian manusia tidak akan menyelamatkan kita di hari akhir. Hanya ridha Allah yang bisa. - Berdoa memohon keikhlasan
Rasulullah ﷺ sering berdoa:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)
Ikhlas Membuat Hati Merdeka
Pujian bisa menyenangkan, tapi jangan biarkan ia menjadi penguasa hati. Nilai diri kita bukan ditentukan oleh komentar manusia, melainkan oleh pandangan Allah.
Maka lakukanlah kebaikan meski tidak ada yang melihat. Karena yang tahu, sudah cukup: Allah. Dan jika Allah ridha, maka itulah kemuliaan yang sejati.
💭 Refleksi hari ini: Apakah kamu akan tetap berbuat baik jika tak ada yang melihat?


Hubungi Kami