Memahami NVivo 14: Alat Canggih untuk Meneliti Kewirausahaan Komunitas secara Kualitatif

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kewirausahaan komunitas, terutama sebagai solusi pemberdayaan ekonomi masyarakat akar rumput, muncul kebutuhan untuk memahami lebih dalam bagaimana komunitas membangun, mengelola, dan mengembangkan usaha bersama. Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah penelitian kualitatif — karena mampu menggali cerita, pengalaman, dan dinamika sosial secara utuh.

Tapi di sinilah tantangannya: bagaimana mengelola tumpukan data wawancara, catatan lapangan, dokumentasi kegiatan, hingga rekaman diskusi kelompok?

Jawabannya: NVivo 14.


💡 Apa Itu NVivo?

NVivo adalah software yang dirancang khusus untuk membantu peneliti menganalisis data kualitatif. Bukan hanya untuk akademisi, NVivo juga cocok dipakai oleh praktisi lapangan, mahasiswa skripsi, hingga NGO yang ingin mendalami realitas sosial masyarakat dari cerita-cerita yang mereka kumpulkan.

Versi terbaru — NVivo 14 — membawa peningkatan dari sisi integrasi data, kolaborasi tim, dan kemudahan visualisasi. Dan yang paling penting, ia sangat relevan untuk penelitian manajemen kewirausahaan komunitas.

Etnografi Tindakan dan MKK: Menghidupkan Kewirausahaan Komunitas dari Dalam

Kita hidup di tengah zaman yang sering menawarkan solusi instan untuk masalah struktural. Tapi bagi saya, ketika berbicara tentang kewirausahaan komunitas, kita tidak bisa hanya bicara soal modal, pelatihan, atau teknologi. Kita harus mulai dari akar—dari manusia, relasi, dan nilai-nilai lokal. Dan itulah mengapa saya tertarik menggabungkan dua pendekatan penting: Etnografi Tindakan dan Model Manajemen Kewirausahaan Komunitas (MKK).


🔍 Mengapa Pendekatan Ini Penting?

Pengalaman saya mendampingi berbagai komunitas—baik desa maupun komunitas urban marginal—menunjukkan satu hal yang terus berulang: banyak inisiatif kewirausahaan gagal bukan karena kurang ide, tapi karena tidak sesuai dengan konteks sosial dan budaya masyarakatnya.

Kita datang dengan niat baik, dengan program pelatihan atau dana bantuan, tapi sering tanpa mendengarkan dulu bagaimana warga hidup, bekerja, dan bermimpi.

Di sinilah etnografi tindakan menjadi jembatan yang kuat. Ia bukan sekadar alat riset, tapi cara hadir, cara menyapa, cara kita belajar dari komunitas sambil berjalan bersama mereka menuju perubahan.

Dr. Rohmat Sarman: Akademisi Turun ke Bumi, Membangun Kewirausahaan dari Akar Komunitas

Di tengah gelombang disrupsi digital dan krisis ekonomi yang menghantam banyak sektor, peran komunitas lokal sebagai benteng ketahanan ekonomi kian penting. Namun, tak cukup hanya dengan semangat. Dibutuhkan strategi, ilmu, dan pendampingan yang tepat agar potensi yang ada benar-benar mampu tumbuh. Di sinilah Dr. H. Rohmat Sarman, S.E., M.Si. hadir—bukan hanya sebagai akademisi, tapi sebagai jembatan antara teori dan realita, antara kampus dan komunitas.

Menyatukan Ilmu dan Aksi

Sebagai dosen dan Lektor Kepala di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pasundan (UNPAS), Dr. Rohmat dikenal luas lewat pendekatannya yang membumi. Ia bukan tipikal akademisi yang hanya nyaman di ruang kuliah atau seminar. Ia turun langsung ke desa, ke komunitas, ke UMKM lokal. Baginya, ilmu manajemen tak cukup berhenti di slide PowerPoint. Ilmu harus hidup, bekerja, dan menyala di tengah masyarakat.

Melalui riset-risetnya tentang digitalisasi UMKM, motivasi kewirausahaan, hingga strategi pemberdayaan komunitas, Dr. Rohmat menghadirkan pendekatan baru yang kini dikenal sebagai manajemen kewirausahaan komunitas.

Apa Itu Manajemen Kewirausahaan Komunitas?

Berbeda dengan pendekatan bisnis konvensional yang fokus pada profit dan individualisme, kewirausahaan komunitas justru menekankan pada kolaborasi, nilai sosial, dan keberlanjutan. Ini bukan hanya soal mencari keuntungan, tapi bagaimana usaha bisa:

  • Memberdayakan masyarakat
  • Menghargai kearifan lokal
  • Menggunakan teknologi secara inklusif
  • Menumbuhkan solidaritas ekonomi

Dan yang lebih penting, bagaimana semua itu dikelola dengan prinsip-prinsip manajemen modern: perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, dan kepemimpinan yang adaptif.

Refleksi 78 Tahun Koperasi di Indonesia: Membangun Kembali Semangat Ekonomi Gotong Royong Melalui Koperasi Merah Putih

Koperasi dan Akar Ekonomi Bangsa

Tepat 78 tahun sejak peristiwa monumental pada 12 Juli 1947, koperasi di Indonesia bukan sekadar lembaga ekonomi, tetapi juga manifestasi dari semangat perjuangan bangsa. Ia lahir dari rahim sejarah sebagai perlawanan terhadap struktur ekonomi kolonial yang eksploitatif. Dengan filosofi gotong royong dan keadilan distributif, koperasi menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan.

Namun perjalanan panjang ini tidak selalu berjalan mulus. Banyak koperasi yang stagnan, mengalami krisis kepercayaan, atau terjebak dalam birokrasi yang kaku. Meski begitu, harapan baru mulai menyala—melalui gerakan Koperasi Merah Putih yang membawa semangat transformasi dan keberdayaan komunitas lokal.

Abdurrahman bin Auf: Wirausahawan Dermawan dan Inspirator Manajemen Kewirausahaan Komunitas

Dalam khazanah Islam, tokoh-tokoh sahabat Nabi Muhammad SAW tidak hanya berperan dalam dimensi spiritual dan militer, tapi juga menjadi pionir dalam bidang sosial-ekonomi. Di antara mereka, Abdurrahman bin Auf adalah figur sentral yang berhasil membuktikan bahwa iman, kewirausahaan, dan kebermanfaatan sosial bisa berjalan seiring. Kisah hidupnya adalah contoh nyata dari apa yang kini disebut sebagai manajemen kewirausahaan komunitas.


Abdurrahman bin Auf dan Semangat Kewirausahaan Awal

Lahir dari Bani Zuhrah di Mekah, Abdurrahman bin Auf adalah pedagang yang berintegritas bahkan sebelum Islam datang. Setelah memeluk Islam dan berhijrah ke Madinah, ia menunjukkan etos kerja yang tinggi dan kemandirian luar biasa. Saat dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, ia menolak bantuan materi dan hanya berkata:

“Tunjukkan aku di mana pasar berada.”

Inilah bentuk awal dari manajemen kewirausahaan berbasis komunitas: kemandirian, etika kerja, kejujuran, dan tidak membebani orang lain. Ia memulai usahanya dari nol, namun dalam waktu singkat berhasil menjadi salah satu saudagar terkaya di Madinah—tanpa mengeksploitasi siapa pun, dan tanpa melupakan nilai-nilai moral Islam.

Sayidina Utsman bin Affan: Teladan Kedermawanan dalam Manajemen Kewirausahaan Komunitas

“Sesungguhnya harta adalah amanah. Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling banyak memberi manfaat.”
– Utsman bin Affan RA

Dalam sejarah Islam, Sayidina Utsman bin Affan RA bukan hanya tercatat sebagai Khalifah ketiga, tetapi juga sebagai salah satu saudagar dermawan terbesar sepanjang masa. Keberhasilan ekonominya tidak berhenti pada keuntungan pribadi, tetapi justru menjadi fondasi bagi kemajuan umat.

Dalam konteks kekinian, semangat Utsman bin Affan dapat menjadi inspirasi utama dalam membangun manajemen kewirausahaan komunitas—yakni pendekatan pengelolaan sumber daya lokal yang berbasis kolaborasi, keadilan sosial, dan keberlanjutan ekonomi.


🔍 Mengenal Sosok Utsman bin Affan

  • Nama lengkap: Utsman bin Affan bin Abil Ash bin Umayyah
  • Julukan: Dzul Nurain – Pemilik dua cahaya, karena menikahi dua putri Rasulullah: Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
  • Profesi: Pedagang sukses, pemimpin umat, dermawan besar.
  • Kepemimpinan: Menjadi khalifah selama 12 tahun (644–656 M), masa ekspansi Islam yang besar dan stabil secara ekonomi.

Utsman bin Affan adalah contoh sahabat yang mengintegrasikan kekuatan spiritual, kepemimpinan bisnis, dan keberpihakan pada rakyat. Keberhasilannya tidak membuatnya eksklusif, justru membuatnya semakin inklusif.


Doa Nabi Sulaiman dan Spirit Manajemen Kewirausahaan Komunitas

Pendahuluan: Wirausaha, Kepemimpinan, dan Kesadaran Diri

Dalam dunia kewirausahaan komunitas, kita seringkali berfokus pada angka, program, dan hasil ekonomi. Padahal, ada hal yang tak kalah penting namun kerap terpinggirkan: nilai spiritual dan kesadaran diri dalam memimpin dan mengelola sumber daya.

Nilai ini bisa kita temukan secara terang dalam salah satu doa paling indah yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Sebuah doa yang datang dari pemimpin besar, raja, sekaligus nabi yang kekuasaannya melampaui batas dunia manusia: Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Allah berfirman dalam Surah Shad ayat 35:

قَالَ رَبِّ ٱغْفِرْ لِى وَهَبْ لِى مُلْكًۭا لَّا يَنبَغِى لِأَحَدٍۢ مِّنۢ بَعْدِىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

“Dia (Sulaiman) berkata: ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi (karunia).’”
(QS. Shad: 35)

Menguak Rahasia Sukses Pengusaha Nahdliyin: Mengapa Buku Ini Wajib Dibaca oleh Setiap Pelaku Bisnis?

Dalam dunia bisnis yang terus berubah dan semakin kompleks, menemukan panduan yang relevan dan aplikatif adalah suatu keharusan. Buku “Strategi Bisnis Pengusaha Nahdliyin: Menguak Rahasia Sukses melalui Inovasi Digital dan Kolaborasi Pengetahuan” hadir sebagai jawaban bagi mereka yang mencari inspirasi dan strategi konkret untuk sukses di era digital ini.

Apa yang Membuat Buku Ini Istimewa?

  1. Pendekatan Berbasis Nilai-Nilai Nahdliyin
    Buku ini mengungkapkan bagaimana prinsip-prinsip Nahdlatul Ulama dapat diintegrasikan dengan strategi bisnis modern. Dalam dunia di mana etika sering kali terabaikan demi keuntungan, buku ini menonjol karena menyatukan nilai-nilai keislaman dengan praktik bisnis yang inovatif.
  2. Inovasi Digital sebagai Kunci Sukses
    Di era yang serba digital, pengusaha tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama. Buku ini menjelaskan bagaimana inovasi digital dapat diterapkan oleh pengusaha Nahdliyin untuk memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat merek mereka. Dengan contoh nyata dan studi kasus, pembaca diajak untuk melihat potensi besar yang ditawarkan oleh teknologi.
  3. Kolaborasi Pengetahuan: Lebih dari Sekadar Teori
    Salah satu keunggulan buku ini adalah pembahasannya yang mendalam tentang pentingnya kolaborasi pengetahuan. Di sini, pembaca akan belajar bagaimana bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk akademisi, praktisi, dan komunitas, untuk menciptakan sinergi yang menghasilkan solusi bisnis yang lebih canggih dan relevan.

Strategi Pemilihan Kepala Desa di Karawang: Antara Pendekatan Konvensional dan Kemajuan Era 4.0

Pada tahun 2021 di Kabupaten Karawang dihelat pemilihan Kepala Desa sebanyak 177 Desa. Tidak tanggung-tanggung, ada 352 bakal Calon Kepala Desa bertanding dalam pesta akbar demokrasi yang dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2021. Banyak manuver dan strategi yang dijalankan oleh masing-masing calon kepala desa agar keluar sebagai pemenang. Fenomena dilapangan terlihat bahwa strategi pemenangannya ada yang bersifat konvensional dan yang memanfaatkan kemajuan era teknologi informasi dan komunikasi.

Strategi Konvensional Pemenangan Pilkades

Pada era sebelum ini, strategi pemenangan konvensional hampir mayoritas pertarungan politik desa telah didekati dengan pendekatan ini. Ada beragam cara yang biasa dilakukan dalam mempengaruhi dan menggaet suara pemilih calon kepala desa, diantaranya adalah: 1) Pemetaan Tokoh, 2) Pemetaan Kekeluargaan, 3) Pemetaan Pendanaan dan 4) Strategi Pemenangan dan 5) Alat Peraga Kampanye (APK). Kelima hal tersebut merupakan unsur yang dilakukan oleh tim pemenangan calon kepala desa apabila calonnya ingin berhasil memenangkan kontestasi demokrasi di sebuah Desa.

Bukan Tidak Menyukai Kekayaan; Tetapi Aku Membenci Keserakahan?

Dalam kehidupan kini, kekayaan telah menjadi indikator penilaian kesuksesan seseorang, sekalipun tidak salah, tetapi telah menorehkan banyak luka kepada keshalehan. Jauh-jauh hari sebelum ini, Rasulullah Muhammad SAW. telah memberikan sinyal, bahwa nanti umat manusia akan dirasuki penyakit “wahn”. Secara bebas wahn dapat diartikan, di akhir zaman manusia akan dirasuki “kehendak” cinta duniawi dan menakuti kematiannya. Dengan demikian, cinta kepada keduniaan dan tidak siap menemui kematian dalam berbagai aspek dapat menyulut rendahnya keshalehan.

Jika ditelaah memakai pendekatan “pola pikir” manusia, kapitalisme telah menjadi denyut nadi kehidupan. Apabila begini, tidak dapat disalahkan jika kesuksesan diukur dengan kapital (kekayaan). Alih-alih, gerakan manusia menuju kepusaran “bagaimana bisa kaya”. Sayangnya, dalam pengejaran kapital, nilai-nilai kebaikan menjadi nilai kedua (second values), sehingga ajaran agama yang merupakan gudang nilai-nilai telah menjadi tumpul menusuk kehendak manusia. Akhirnya, kehendak, dipenuhi dengan ambisi mencapai kesuksesan membabi buta, seiring dengan itu kebaikan menjadi semakin buram.